Rabu, 10 Desember 2008

Gemuruh Kepulangan

ALUNAN syahdu lirik-lirik lagu itu masih juga terngiang di telingaku sekaligus menusuk-nusuk dadaku ketika kakiku mulai menginjakkan pintu ruang tunggu pelabuhan itu. Tadi malam, lagu Allahyarham Sudirman dari negeri seberang Malaysia itu berkali-kali on play di winamp komputerku. Sejak puluhan tahun lalu, ketika aku masih tahu betul apa rasanya kebahagiaan idul fitri, lagu itu sebenarnya telah mulai kudengar, dan karena lagu itu pula, aku tak menangis kecuali hanya untuk sebuah kebahagiaan.

Restu ayah bonda kuharap selalu
Hanya kusampaikan doa dan kiriman tulus ikhlas
Dari jauh kumohonkan ampun maaf
Jangan sedih pagi ini tak dapat kita bersama
Meraikan aidil fitri yang mulia..


Tapi sekarang, bukankah aku juga tetap menangis karena lagu itu? Ya, lirik dan alunannya memang masih punya kekuatan untuk mencabik-cabik ulu hatiku dan memaksa airmata itu tumpah. Tapi kenapa itu bukan lagi terjadi karena sebuah kebahagiaan?

Kenapa iramanya kini tak lagi sekuat takbir yang biasa kudengar beberapa kali saat menonton televisi, hingga kemudian semua aroma sengak tanah redang itu menyeruap di jantungku dan membuat aku rindu? Maka keputusanku untuk menuju kota itu siang ini tak dapat kutawar-tawar lagi. Seperti semangat di mata orang-orang yang menunggu keberangkatan kapal kayu itu di ruangan ini, seperti itu jugalah aku coba menunjukkan semangat sebuah kepulangan di mataku.
***
Beberapa kapal masih tenang bersandar di dermaga itu. Sesekali kulihat lewat beberapa boat kecil membawa sejumlah orang dari arah yang tak sama. Saat-saat seperti ini, pelabuhan bernama Sungai Duku ini memang takkan pernah sepi. Aku sendiri kini berada di ruang tunggu keberangkatan kapal ke Selatpanjang.

Tepat disebelahku, dimana kini aku duduk dan sesekali pula menyandar di dinding pemisah itu, ruangan tunggu keberangkatan ke Bengkalis berada. Lamat kudengar, suara orang-orang yang menunggu keberangkatan kapal terakhir ke kota kelahiranku itu semakin ramai. Kulihat lagi jam yang tersangkut tepat di atas pintu keluar itu, jarumnya menunjuk angka 12. Masih ada banyak waktu untuk bergerak menuju kapal kayu itu dan berangkat menuju Selatpanjang untuk selanjutnya menuju Tanjungbalai.

Jujur harus kukatakan, di dadaku, gemuruh kepulangan itu kembali terasa menyesakkan. Tapi lagi-lagi perlu kutanyakan, kenapa gemuruh kepulangan itu tak sama seperti yang kurasakan saat kepulangan ke tanah kelahiranku sebelum ini? Entahlah. Yang jelas, semua ini karena hatiku memang setengah hati untuk tak pulang kampung, sementara aku kini justru memlilih kepulangan ke kota yang lain.

Maka pertanyaan itu pun muncul di benakku ketika seorang penjual koran terbitan pagi tadi tiba-tiba berdiri di hadapanku dan menyodorkan gulungan kertas itu ke ujung hidungku; sebegitu kuatkah alasanku, hanya karena tak ada lagi kebahagiaan, aku kini berada di ruangan ini dan menunggu kapal yang asing di mataku itu? Aku sendiri masih tak pasti menjawab, yang jelas dari pagi tadi, semua gerak tubuhku tetap saja membuat aku berada disini, dan kapal kayu yang bersandar di tepi dermaga itu makin lama makin seperti wujud seorang peri, yang menawarkan sebuah kebahagiaan yang lain untuk memberhentikan sejenak kecamuk yang lintangpukang di dada ini.
***
Aku masih berjibaku di ruangan itu dengan gemuruh kepulangan yang lain di dadaku. Lalu-lalang orang menarik tasnya seperti menarik leher anjing peliharaan itu masih saja sama seperti asap rokok yang dari tadi berkelebat di sebelahku. Rupanya, asap rokok itu keluar dari mulut seorang tua berkaca mata di belakangku. Dasar tak beradat! Pikirku. Jelas hari ini masih di suasana Ramadan, orang-orang berusaha untuk tidak sarapan, dan menahan untuk tidak minum segelas teh seperti menahan keinginan untuk menenggak sebutir tablet anti mabuk, mengapa orang tua gembel ini justru dengan santai mengepulkan asap beracun itu?

Kujelingkan tatapan tajamku ke arahnya, matanya melawan, dan kulihat dari bibir itu justru tersungging sebentuk senyuman. Duh! Celaka! Kualihkan segera pandanganku dari tatapan mata dan senyuman yang tak penting itu. Pandanganku kembali kuarahkan ke kapal kayu. Tapi beberapa detik setelah itu, aku terkejut bukan main, orang tua berkaca mata itu tiba-tiba telah duduk di bangku sebelahku. Bedebah! Batinku.

“Apa kabar?” sapanya sembari menyodorkan ujung tangannya ke arahku. Kalimat yang diucapkan santai dan uluran tangan itu membuatku terdiam. Kubiarkan ia berlama-lama dengan uluran tangannya yang tampak keriput itu. Rokok di mulutnya kini sudah berpindah di lantai.

“Ya. Baik,” sambutku berusaha tak melawan senyum itu, dan tak balik bertanya kabar seperti yang ditanyakan kepadaku. Tapi justru kulihat dia semakin tersenyum. Aku tahu, matanya masih saja tak lepas menatapku, tapi dari sana pula aku tahu, dia seperti ingin ramah padaku.

“Maaf, Nak. Mau ke mana?” tanyanya lagi. Ehm, kalau sudah begini, tak berusaha ramah bagi anak kampung yang tahu bagaimana berhadapan dengan orang tua, rasanya tak lagi mungkin.

“Mau ke Selatpanjang, Pak,” jawabku. “Maaf, Bapak ke Selatpanjang juga?” tambahku kemudian. Senyumnya makin mengembang.

“O ya Nak, sama kita. Anak asli orang Selatpanjang? Di mana rumahmu, Nak?” tanyanya lagi.

“Oh, bukan Pak. Saya bukan orang Selatpanjang, saya asli Bengkalis. Dan saya bukan mau ke Selatpanjang, tapi saya mau ke Tanjungbalai,” jawabku.

“Jadi, Anak mau lebaran di Tanjungbalai? Mengapa tak lebaran di Bengkalis?” balas lelaki berkaca mata itu. Pertanyaan terakhir yang keluar dari mulutnya itu tiba-tiba membuatku gugup. Tak kusangka sama sekali. Aku terdiam sejenak. Kulihat balik orang tua itu, matanya masih tak berkedip. Ia seperti heran. Aku tahu, dia menunggu jawabanku dengan sangat seperti menunggu uluran tangan petugas BLT di kantor pos.

Dan aku berusaha bersikap wajar, tak perlu aku gugup untuk sebuah jawaban dari semua kisah yang nyata-nyata kualami ini hingga aku memilih untuk tak pulang ke tanah kelahiranku itu. Meskipun seperti yang kurasakan sejak tiba di pelabuhan ini, alasan itu memang tak cukup kuat.

”Eeghh, ya Pak. Saya memang tak balek ke Bengkalis. Sengaja. Memangnya pulang itu harus ke kampung kita, Pak? Bagi Bapak mungkin ya, bagi saya tidak. Bagi Bapak mungkin banyak kebahagiaan di sana, bagi saya untuk saat ini tidak ada,” jawabku ringan dan beruntun. Ada rasa lega dan puas setelah kuucapkan kalimat-kalimat itu. Apalagi setelah kulihat orang tua itu kini terdiam, dan aku tak menunggu jawabannya seperti ia menunggu jawabanku tadi.

Suasana di sekeliling kami semakin seperti ruangan reuni pemelihara anjing-anjing kesayangan, yang hilir mudik menarik anjingnya dengan berbagai warna dan ukuran. Orang tua itu kemudian bicara lagi.

“Mengapa seperti itu sekali, Nak? Maafkan Bapak. Sepertinya ada satu hal yang berat sehingga Anak bicara seperti itu,” ujarnya. Betul semua yang kukira tadi, kini dia seperti memaksaku untuk menceritakan semuanya. Tapi, apakah perlu kuceritakan itu pada orang tua ini? Aku jadi berpikir ulang. Sudah berbuih rasanya mulutku menceritakan persoalanku itu pada semua orang yang dekat denganku sebelum ini. Tapi kenyataannya, aku masih juga memilih untuk mengobatinya dengan pergi ke kota lain. Karena memang kebahagiaan itu kuanggap di mana-mana tak kunjung ada. Dan soalnya lagi-lagi, alasanku itu sebenarnya...; tak cukup kuat sama sekali.

“Ya, memang ada hal berat yang saya rasakan saat ini. Dan saya kira tak perlulah apak tahu. Yang jelas, saya cuma menganggap, saat ini kebahagiaan belum ada di mana-mana. Makanya, tak pulang ke kampung saya pun, keadaannya tetap sama saja,” jawabku serius dan setengah acuh, memalingkan kembali pandangan pada kapal kayu di dermaga itu. Orang tua itu kulihat juga mengalihkan pandangannya, meski dia masih ingin mengatakan sesuatu.

“O, begitu ya, ak. Maafkan Bapak. Tapi, kalau boleh bertanya, Anak masih ada orang tua?”

Semakin menjadi-jadi pertanyaan yang tak kuinginkan dari orang tua itu. Kepalaku tiba-tiba jadi terasa semakin berat. Gemuruh yang lain semakin tak tentu berdenyut di dadaku. Aku mengangguk terpaksa. Selebihnya, kubiarkan orang tua di sampingku itu bicara sendiri.

“Bapak juga sebelumnya merasa tak ada kebahagiaan di mana-mana, Nak. Karena itu dua bulan lalu Bapak putuskan untuk ke kota ini. Serasa telah puas berada di kota ini, Bapak putuskan pula untuk berangkat ke Singapura. Yah, hasilnya sama saja, kebahagiaan tak kunjung tiba juga. Hanya beberapa hari saja Bapak di sana, kini Bapak memutuskan kembali ke kota ini. Dan karena lebaran tiba, akhirnya bapak pulang ke kampung juga,” ujar lelaki itu seperti ingin bercerita tentang dirinya. Aku masih diam, berusaha untuk tak merespon apa yang diceritakannya itu. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang lain menyerbu di kepalaku setelah kusimak baik-baik kalimat-kalimat itu. Jujur saja, sebenarnya aku tertarik untuk bertanya, tapi kuurung setelah tiba-tiba dia berujar lagi.

“Kalau boleh tahu, apa masalahnya Nak? Sehingga Anak lebih memilih ke kota lain saat lebaran seperti ini?” tanyanya tiba-tiba padaku, lalu seperti sebelumnya, dia kembali tampak menunggu jawaban dari pertanyaannya itu seperti seseorang menunggu uluran tangan petugas BLT di kantor pos. Aku tak dapat lagi mengelak.

“Karena perempuan, Pak!” jawabku tegas. Singkat dengan ekspresi wajah seratus persen padam. Aku berusaha menatapnya sejenak, ingin tahu apa reaksinya. Dan, celaka! Dia malah menutup mulut dengan telapak tangannya. Tersenyum tanggung. Getir seperti menyindir. Ah, aku tersinggung.

“Lho, kok tertawa Pak. Ada yang lucu?” gertakku pada orang tua itu. Kutatap serius sesuatu di balik kaca mata itu, pantatku bergeser dan aku hampir saja berdiri. Tapi dia justru tak menatapku. Betul-betul menjengkelkan, pikirku. Sejak awal tadi memang, kehadiran orang tua ini kuanggap tak menawarkan apa-apa kecuali menambah kecamuk di dada. Tapi entah kenapa, hatiku luluh setelah kulihat perlahan ia melepaskan kaca mata yang sejak tadi bertengger di hidungnya itu. Dia berusaha tak menatapku dan tak menjawab sepatah pun pertanyaanku tadi. Tapi sembari ingin beranjak dari bangku itu dan menatapku sendu, ia berujar lagi.

“Dengar baik-baik Nak. Bapak tahu, pasti perempuan itu telah membuatmu kecewa. Bahkan mungkin, dia tak lagi kau miliki, benar kan? Bapak juga seperti itu Nak, sama-sama karena perempuan. Bedanya dia tak pernah mengecewakan,” ucapnya perlahan. Aku terkejut. Dia seperti telah tahu semua yang aku alami, padahal tadi aku hanya menjawab satu kalimat saja; karena perempuan. Lalu tiba-tiba aku seperti ingin mendengarkan kelanjutan kalimat-kalimat dari mulut orang tua itu.

“Mencintai tak mesti selamanya memiliki. Ingatlah, di dunia ini, memang tak ada yang kekal, Nak. Baru beberapa bulan lalu, apak kehilangan istri tercinta, dia dijemput Tuhan secara mendadak. Padahal dia satu-satunya orang yang sangat berharga di kehidupan bapak, karena Bapak ditakdirkan tak punya keturunan. Tapi, mengapa Bapak masih juga ingin pulang kampung sementara tak ada lagi siapa-siapa d isana? Karena Bapak merasa kebahagiaan memang tak ada di mana-mana, tapi justru ada dalam diri kita. Di kampung itu, Bapak masih bisa berziarah ke kuburnya, juga kubur orang tua Bapak, bersimpuh dan berdoa di sana. Bapak pikir, kita memang harus selalu ingat pada orang yang kita cintai meski mereka telah meninggalkan kita. Cinta memang tak harus selamanya memiliki, Nak. Yakinlah, Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih baik untuk kita. Dan bersyukurlah, anak masih ada orang tua dan keluarga. Jujur, Bapak tak punya...” ujarnya sembari beranjak pergi begitu saja dari bangku itu. Aku termangu. Gemuruh yang lain di dadaku itu kini bercampur-aduk. Kalimat-kalimat yang diucapkan orang tua itu betul-betul membuat hatiku terusik. Lalu entah mengapa, seperti setengah sadar, aku segera menyambar ponsel dan menghubungi Erwan, sahabatku wartawan kota yang telah lama mangkal di pelabuhan Sungai Duku itu.

“Wan, bisa tolong carikan tiket satu Wan? Aku nak balek.”

“Kapan?”

“Sekarang, Wan.”

“Awak di mane?”

“Aku dah di Sungai Duku ni.”

“O, ya. Awak tunggu saje di pintu kelua, sebentar lagi aku ke sana.”

Selang beberapa menit setelah itu, aku sudah berada di bangku CC paling belakang speed boat yang bersebelahan dengan kapal kayu itu.

Aku pulang ke Bengkalis.***

Rumahsenja, September 2008- Ramadhan 1429 H

Selasa, 08 Januari 2008

Bakau Sungai Tanjung

Amir, Melayu laut, anak pungut. Kawin dengan tetangga sebelah rumah. Kini anaknya lima. Badan kekar, tinggi legam. Selalu bertelanjang dada kemana-mana. Acong, jelas keturunan Cina. Tapi bapaknya Akit. Tubuhnya lebih pendek dari Amir dan Jali. Agak Penakut, jadi nelayan hanya karena desakan ekonomi, tak ada pilihan lain. Mau jadi pedagang seperti saudara-saudaranya sesama keturunan Cina, dia sepertinya tak berbakat. Beberapa kali buka usaha, setelah itu bengkrap. Anaknya tiga. Bini tak kerja. Jali, Melayu-Jawa. Kawin Muda. Tertangkap basah di belakang surau. Anak satu umur tiga tahun. Sempat melaut karena ikut bapaknya. Sekarang bapaknya sudah tua. Laut sudah tak menjanjikan apa-apa. Dia anak tunggal di keluarganya. Siapa lagi bisa diharap selain dia?

Mereka sebenarnya nelayan. Tapi sejak laut dikuasai sejumlah orang-orang berpakaian seragam lengkap dan bersenjata api, mereka tak berani lagi kesana. Laut sudah tak halal bagi mereka. Laut dilarang disentuh. Mereka pernah terlibat perang dengan nelayan Negeri Semenanjung (daerah seberang berjarak tiga empat jam pelayaran tongkang). Semua hanya karena batas mereka melaut tak jelas. Lahan yang mereka rebutkan adalah laut yang sama dan ikan-ikannya yang sama. Sehingga mereka pun harus beradu kekuatan. Sejumlah nyawa pun melayang, petugas itu datang.

Hampir setengah tahun orang-orang itu di sana, di laut mereka. Kini, mereka harus mencari sumber nafkah lain selain menangkap ikan di laut. Sebagian yang bujang, belum beranak-bini, ada modal mengurus paspor, mereka ke negeri seberang. Sementara Amir, Acong dan Jali? Mereka memilih menebang bakau dan menjualnya!

Ya, mereka mencari bakau di Sungai Tanjung untuk ditebang. Padahal sudah lama orang-orang kampung tak melakukan itu. Karena memang selama ini hampir semua lelaki di kampung itu menangkap ikan di laut. Menebang bakau memang sudah lama mereka tinggalkan. Yang melakukan pekerjaan itu sebelum ini hanya orang-orang Akit yang ada di kampung itu. Orang-orang laut selain Akit, memang sudah memafhumi, kalau pekerjaan itu sebenarnya adalah pekerjaan orang-orang Akit. Selama ini mereka tak mau mengganggu sumber nafkah orang-orang itu.

Pernah suatu kali, orang-orang Akit mengamuk ke pemukiman mereka. Sempat juga terjadi pertumpahan darah di kampung itu. Semua karena orang-orang laut selain Akit waktu itu coba merambah hutan bakau dan mengambil kayunya di sana. Saat itu musim utara, musim angin dengan gelombang setinggi pohon kelapa muda, jadi orang-orang laut terpaksa melakukan itu. Tapi, semua tak dapat dijadikan alasan orang-orang laut selain Akit ikut untuk menebang bakau dan menjualnya. Bagi orang-orang Akit, sejumput hutan bakau yang ada di Sungai Tanjung itu adalah milik nenek-moyang mereka. Haram jadah bagi orang-orang selain Akit menjamahnya.

Lagipula, selama ini orang-orang laut adalah orang-orang yang sudah memiliki kehidupan layak. Orang-orang laut memiliki kendaraan bermotor yang tak pernah orang-orang Akit punya. Orang-orang laut juga memiliki rumah cukup elok dan kebun kelapa berjalu-jalu. Semua karena selama ini ikan yang mereka tangkap di laut itu adalah Kurau. Ikan yang harga per kilo tubuhnya mencapai ratusan ribu rupiah.

Begitulah. Lagi-lagi, semua berpunca dari keberadaan orang-orang berseragam bersenjata api lengkap di laut itu. Mereka datang karena orang-orang laut di kampung itu berperang dengan orang laut Negeri Semenanjung. Memang itu semua salah mereka. Dan akibatnya tengoklah, kini mereka harus cari alternatif lain untuk memberi makan anak-bininya. Semula orang-orang laut di kampung itu berpikir panjang untuk kembali ikut menebang bakau yang sudah diklaim orang-orang Akit milik mereka. Bahkan hampir sebulan orang-orang laut itu menganggur. Mereka tak mau pertumpahan darah terjadi lagi. Bagi mereka, cukuplah sudah pertumpahan darah sesama orang-orang laut yang ada di Negeri Semenanjung itu beberapa waktu lalu. Tapi nampaknya ada juga yang lama-lama tak sabar dengan keadaan itu. Tengok saja, Amir, Jali dan Acong, tiga orang laut yang ada di antara mereka memutuskan untuk melakukannya juga.

***

Siang menyengat. Matahari masih tinggi, sekitaran pukul tiga sore. Di sebuah jalan menuju Sungai Tanjung, mereka sudah nampak berkumpul di sana. Jalan itu adalah aspal yang sudah pecah-pecah. Sebagian kerikil dan pasir di dalamnya terburai dan berkecai dimana-mana. Sebagiannya memang masih tampak utuh dan sedap dilanggar kendaraan. Sederetan pepohonan bakau menyeruak tinggi di sekeliling mereka. Air Sungai Tanjung tampak surut.

"Ayo, geng. Kita bergerak!" Seru Amir pada kedua temannya saat kakinya mulai menyentuh dasar lumpur di rawa bakau itu. Jali ikut bergerak di belakang Amir. Kakinya yang telanjang itu tenggelam sebatas mata kaki. Sementara Acong, entah kenapa, masih juga berdiri di atas tanggul sungai. Rautnya padam. Matanya tetap menatap dua orang kawannya itu, sementara tubuhnya seperti letoi tak bersemangat. Dan dia memang tak bergerak, padahal Amir dan Jali sudah mulai menerobos satu baris bakau setinggi kepala.

"Hei, Cong. Apa pasal masih terpacak di situ?" Teriak Amir sekali ini lantang. Setelah ia menoleh ke belakang dan didapati satu orang kawannya itu bergelagat tak seperti biasa. Langkahnya terhenti. Jali yang ada di belakangnya kini juga ikut berhenti. Mereka berdua terdiam dan berpandang-pandangan. Rupanya Acong seperti tak mendengar teriakan Amir.

"Hoi, Pek! Ada apa ni? Tersampuk?" Teriak Amir sekali lagi menyindir. Kawannya yang Cina itu masih diam. Dia tampak menunduk menatap air Sungai Tanjung yang surut di rawa-rawa itu. Kini dia malah nampak berjongkok di atas tanggul samping jalan itu. Kapak di tangannya dijatuhkan ke tanah.

"Eh eh, tak boleh jadi ni, Li. Nampaknya, dah cari pasal pulak budak Cina satu ni," ujar Amir perlahan pada Jali. Jali tampak bersungut-sungut.

"Lebih baik kita balek lagi ke sana, Mir. Kita tanya budak tu, apa pasal dia jadi macam tu," sahut Jali kemudian mengajak Amir kembali ke dekat tanggul sungai di mana Acong masih berjongkok di sana. Amir setuju. Dan mereka kemudian bergerak.

"Hei, Ape pasal ni? Tak jadi ke awak ikut?" Sergah Amir pada Acong setelah sejenak saja kakinya menyentuh ujung tanggul sungai itu. Acong masih diam. Dia tak menjawab. Wajahnya tertunduk. Ia kemudian tampak menggaruk-garukkan kepalanya. Gagang kapak yang tergeletak di tanah itu mulai dipegang-pegangnya.

"Aku tak beranilah, Mir. Kalian berdua sajalah yang pergi. Aku mau balek," ujar Acong ringan kepada dua orang kawannya yang kini tegak di sampingnya itu.

"Aku tak mau gara-gara bakau sejumput ini, bertegang urat pulak dengan orang-orang Akit tu. Iya kalau tak mereka bersetan menebaskan kapaknya ke leher aku. Kalau iya? Mulai pulak nanti pertelagahan yang tak kita inginkan itu," tambahnya lagi coba memberi alasan, mengaitkan-ngaitkan kembali peristiwa perkelahian dengan orang Akit yang pernah terjadi dulu. Sementara Amir dan Jali nampak tak bercakap. Suasana tiba-tiba sunyi. Mereka berpandang-pandangan.

"O, jadi itu ya? Tak boleh haraplah kau ni, Cong, Bukankah semalam kita dah runding mengenai ini? Kau dah lupa?" Ucap Amir seperti membujuk.

"Ya, aku ingat. Aku tahu. Kita memang dah sepakat. Tapi maaflah. Aku berubah pikiran. Maafkan aku," jawab Acong sambil berdiri. Bergerak menuju aspal. Coba meninggalkan dua orang kawannya yang masih menatapnya itu.

"Sekali lagi, aku mau balek. Terserahlah kalian. Perasaanku tak sedap. Maafkan aku," ucapnya sembari melenggang meninggalkan Amir dan Jali. Amir dan Jali terdiam. Tak ada kata-kata lagi dari mulut mereka menanggapi ucapan kawannya yang Cina itu. Mereka lagi-lagi hanya berpandangan.

Tubuh Acong kemudian hilang di balik semak dan pepohon bakau itu. Siang masih menyengat. Sinarnya terlihat di celah-celah dahan bakau di sekeliling mereka. Mereka memang tak bisa berbuat apa-apa lagi dengan keputusan Acong. Mereka kemudian memutuskan untuk melanjutkan niatnya menebang bakau di hutan itu. Mereka pun kini bergerak lebih ke dalam. Air Sungai Tanjung yang dangkal karena surut itu terdengar berkecipak menyentuh telapak kaki mereka.

***

Petang mulai tenggelam di kampung itu. Suasana tampak sunyi setelah azan maghrib di surau terdengar sayup. Malam itu, seperti biasa, Acong meyeruput kopi pahit yang dibuatkan bininya di meja itu. Pikirannya masih melayang-layang. Terbayang kejadian petang tadi di ujung Sungai Tanjung. Wajah Amir dan Jali tiba-tiba berkelebat di matanya. Ada terselip perasaan bersalah di hatinya. Tapi dia tetap yakin, bahwa keputusannya untuk tak ikut menebang bakau itu sudah tepat. Karena dia tahu, di satu sisi, hal itu dia maklumi sebagai satu-satunya jalan yang terpaksa harus dilakukan. Tapi di sini lain, dia sendiri sebenarnya memiliki beban yang berbeda dibanding dengan dua kawannya itu. Itulah sebenarnya alasan yang susah hendak dia sebutkan.

Ya, karena dia sendiri adalah keturunan Akit, meski emaknya Cina, tapi abahnya adalah asli orang itu. Karena itu dia tak mau hubungannya dengan sebagian saudara-saudara dari sebelah abahnya terganggu. Orang-orang Akit tahu, dia adalah satu keturunan dengan mereka. Namun karena selama ini pekerjaannya sehari-hari adalah melaut, dia pun terlanjur dianggap orang laut. Dan dia memang lebih banyak bergaul dengan orang-orang laut di kampung itu ketimbang dengan orang-orang Akit. Ya, karenanya dia memutuskan untuk membatalkan niat mencari bakau di hutan dekat Sungai Tanjung itu. "Maafkan aku, Mir, Li. Maafkan aku," gumamnya lirih.

Suasana terasa lengang di rumah itu. Aini, bininya yang juga peranakan itu, dilihatnya sudah masuk ke kamar. Tinggal dia sendiri duduk di depan meja dekat jendela itu. Kopi di depannya sudah mulai habis. Sementara rokok di tangannya terus saja dia hisap. Sampai tiba-tiba dari arah pintu terdengar keras suara orang memanggil-manggil namanya.

"Cik, Cik. Cik Acong. Buka pintu, Cik…"Dia tak langsung beranjak dari kursi kayu itu. Dia malah sempat menggumam; siapa malam-malam begini yang datang ke rumahnya? Memang jarang-jarang betul ada orang bertamu ke rumahnya kalau sudah malam begitu. Dia penasaran. Akhirnya dia bergerak juga menuju pintu dan membukanya.

"Ah, kau rupanya, Dul. Ada apa malam-malam begini?" Sambutnya setelah didapati Dulai, anak Wak Buang sudah berdiri di hadapannya. Dia terkejut. Dulai nampak tercungap-cungap. Seperti baru berlari dikejar hantu. Acong kemudian teringat, dia sempat bertemu dengan Dulai tadi siang di jalan. Saat dia pulang meninggalkan Amir dan Jali di ujung sungai itu.

"Ada apa, Dul?" Tanyanya kepada anak itu lagi. Tapi tak juga dijawab. Dulai malah menatap ke arah lain sembari coba mengatur kembali nafasnya yang tercungap-cungap. Beberapa detik kemudian barulah dia bercakap.

"Begini, Cik. Tadi saya ada jumpa dengan orang Akit di jalan menuju simpang. Dia mengkabarkan pada saya kalau Cik Amir dan Jali sekarang ditangkap orang-orang itu setelah berkelahi di hutan bakau Sungai Tanjung. Saya kesini, karena saya agak Cik juga dari hutan itu bersama mereka. Karena petang tadi kita berjumpa. Dan saya tengok Cik membawa kapak. Apa betul, Cik tadi juga ikut dengan Cik Amir dan Jali? Apa Cik sendiri sudah tahu kejadian ini?" Jelas Dulai panjang lebar.

Tapi suara itu seperti berdesing di telinga Acong. Wajah Acong tiba-tiba pucat. Darahnya terasa berdesir di kepala. Jantungnya berdegup kencang. Ditatapnya Dulai anak Wak Buang yang masih bediri di depannya itu. Tak ada percakapan diantara mereka. Dulai heran. Sampai tiba-tiba datang pula Badang anak Wak Husin dari arah jalan. Anak ketua kampung itu juga nampak tergesa berlari menuju rumah Acong. Acong dan Dulai serempak menatap Badang.

"Kenapa, Dang?" Sergah Dulai kepada Badang yang sudah berdiri disampingnya. Acong tak bercakap. Ditatapnya dalam-dalam dua pemuda yang ada di depannya itu. Ada perasaan tak sedap tiba-tiba hinggap di jantungnya. Perasaan yang membuat lututnya tiba-tiba menggigil.

"Ada berita baru, Dul, Cik," ujar Badang sambil menatap Dulai dan Acong.

"Kabarnya Cik Amir dan Jali meninggal. Mereka tak tertolong setelah berkelahi dengan orang-orang Akit itu. Jenazahnya sudah dibawa ke balai kampung sekarang," lanjut Badang tegas. Tak pelak, ketegasan ucapan itu membuat wajah Acong semakin padam. Dadanya seperti sesak. Tubuhnya goyang setelah lututnya semakin lemas. Dia pun terduduk dan tertunduk. Sungguh tak dapat ia bayangkan apa yang akan terjadi setelah itu. Sayup-sayup terdengar di telinganya dua suara memanggil-manggilnya bergantian. Sementara suasana dirasakan semakin lengang. Sangat lengang. ***


Pekanbaru, Rumahkedua, 2007

Perempuan yang Mandi di Sungai Itu


Pukul 15.30 WIB (Menjelang petang)

Matahari terlihat samar di balik rimbunan pohon bambu yang ada di hadapannya. Kail pancing yang hampir setengah jam lalu dia lemparkan ke sungai itu masih juga tak bergerak, tak juga memberikan tanda bahwa umpan yang dipasang dimakan ikan yang diharapkan. Ah, sungai ini memang tak seperti dulu lagi, pikirnya. Seperti dua puluh tahun lalu saat ia baru pertama kali mengenal mata kail itu. Waktu itu, bersama abah, hanya perlu beberapa menit saja, ia sudah bisa mendapatkan ikan di sungai itu. Saat pulut kelapa di rantang yang biasa mereka bawa itu pun belum sempat dicicipi. Juga matahari yang bediri tepat di depan mereka, masih tercacak di tempatnya. Ya, baginya, sungai itu bak surga bagi para pemancing yang ada di kampungnya. Bagi mereka yang memilih menghabiskan waktu untuk berjam-jam duduk di sana.

Tapi itu dulu. Tepatnya, beberapa tahun lalu, saat ia masih kanak-kanak. Sekarang, tengoklah. Sudah hampir satu jam ia duduk di pinggir sungai itu, mata kail yang ia lepaskan tak juga kunjung bergerak. Permukaan air sungai itu pun tak beriak setakat memberi tanda bahwa ada sesuatu di dalamnya. Ah, lama-lama bosan juga, gumamnya. Entah kenapa, matanya yang sejak tadi memandangi tali pancing yang terendam di sungai itu pun kini mulai kantuk. Sebatang rokok yang ia hisap juga tak mampu lagi mengusirnya. Tampaknya ia memang sudah mulai putus asa. Dan di hatinya juga tiba-tiba muncul niat untuk menyelesaikannya sampai di situ. Ia pun mulai mengangkat pantat dari tempatnya. Coba beranjak dan menarik mata kail dari sungai itu.

Tapi tiba-tiba, tanpa sengaja ia terpandang sosok seseorang berdiri di sebelah utara sungai. Dia terkejut. Rasanya dari tadi dia berada di situ, ia seperti tak melihat makhluk apapun di sekitarnya. Suasana cukup sunyi, hanya beberapa ekor Tiung saja yang sesekali terbang dan hinggap di pohon kelapa yang ada di seberang sungai itu. Ya, dia terkejut sekali. Dan sekelabat pertanyaan pun tiba-tiba muncul di benaknya. Siapa gerangan sosok orang yang ada di sebelah sungai itu? Apa yang dilakukannya di sana?

Sosok itu memang cukup jauh. Dari tempat dia memancing, sosok itu didapati hanya sesuatu yang memutih. Tapi ia tak dapat menyangkal kalau itu memang sosok seseorang. Itu bisa ia pastikan dari gerak-gerik dan wujudnya secara sekilas. Dia semakin penasaran. Ia coba gegas mengemasi peralatan memancingnya. Sesekali pandangannya masih diarahkan ke sana. Dan sosok itu memang masih di sana. Sosok itu masih bergerak membungkuk dan berdiri seperti yang pertama ia lihat. Lalu ia coba menghampiri sosok itu dengan menelusuri pinggiran sungai. Ya, kini ia semakin dekat. Sosok itu semakin jelas.

Dan, "Astaga!" Ujarnya tiba-tiba. Dia terkejut. Ternyata sosok itu seorang perempuan. Perempuan yang sedang mandi di sana. Puih, siapa perempuan itu? Apakah dia penduduk kampung? Wajahnya memang tak terlihat karena sosok itu menghadap berlawanan dengannya. Cukup penasaran juga ia dibuatnya. Bukankah selama ini tak ada satu pun penduduk kampung yang mandi di sungai itu? Kalau pun ada penduduk kampung yang beraktivitas di sungai itu, paling hanya memancing, selain itu tidak ada, pikirnya. Jadi, lagi-lagi, siapa perempuan itu? Ia pun tiba-tiba gugup. Bagaimana tidak, sosok itu memang tampak mengenakan selembar kain berwarna putih untuk menutupi tubuhnya, tapi tubuh itu tetap jelas terlihat lekuk-lekuknya karena air sungai telah membasahinya. Bagian paha sosok perempuan itu juga tampak menggoda karena kain yang menutupinya tersibak.

Ya, ia benar-benar gugup. Ia telah begitu dekat melihat perempuan yang sedang mandi itu, sementara sosok itu sejak tadi tak juga kunjung menampakkan tanda-tanda bahwa ia tahu kalau di situ ada seseorang melihatnya. Karena tengoklah, dengan santai, sosok itu masih juga mengayunkan tangannya untuk mengambil air sungai itu dengan selembar tempurung kelapa lalu mengguyurkan ke tubuhnya. Berkali-kali. Bahkan sesekali sosok itu juga menggosokkan lengan kirinya dengan tangan kanannya. Lalu dia juga menggosok-gosok ke bagian tubuh yang lain. Aih, semua ia lihat. Ya, terlihat.


Pukul 18.00 WIB (Senja mulai merangkak)

SENJA di kampung itu tak seperti biasanya. Di rumah beratap rumbia dan berdinding papan itu tampak ramai. Terlihat para tetua kampung dan sejumlah pemuda berkumpul di sana. Tampak juga beberapa orang perempuan dengan menggendong anaknya sibuk berbual. Seperti ada sesuatu kejadian yang sangat tak biasa dan merisaukan di rumah itu. Ya, Udin, anak Tuk Jamang, penghulu kampung, rupanya sudah dua hari ini tak pulang. Hilang tak tentu rimba. Dan itulah sebabnya penduduk kampung heboh. Ternyata sudah dua hari ini pula mereka sibuk mencari Udin di setiap sudut kampung, tapi tak ada hasilnya.

"Hah! Jadi macam mana Tuk?" Teriak Ujang, kawan sepermainan Udin, coba bertanya pada Tuk Jamang yang berada tak jauh di depannya. Kerumunan orang-orang kampung yang berkumpul di rumah itu pun serempak melihat Tuk Jamang. Menunggu jawaban apa yang diberikan penghulu kampung yang sedang kehilangan anak lelakinya itu.

"Ah, entahlah. Tak dapat aku nak cakap lagi. Lututku dah letoi," jawab Tuk Jamang terlihat pasrah di hadapan penduduk kampung. Sementara Mak Inah, istri Tuk Jamang, sejak petang tadi tampak tak berhenti-henti menangis. Suasana tiba-tiba hening. Tak ada satu pun orang yang bercakap. Tampak sekali rasa cemas dan risau di wajah mereka. Kalau mau jujur, Ujang, Rampin, Atan dan beberapa pemuda dan tetua kampung yang lain, sebenarnya juga sudah mulai merasa putus asa. Maklumlah, mereka sendiri merasa tak tahu lagi di mana hendak mencari keberadaan Udin. Selama dua hari ini, tak hanya di sungai di mana Udin itu menghilang, semua sudut kampung bahkan sampai ke arah laut pun, semua sudah mereka jelajahi. Tak hanya siang, malam pun mereka bergerak, tapi hasilnya, nihil.

Dan suasana semakin hening. Lagi-lagi, tak ada satu pun mereka yang berkumpul di rumah itu bercakap. Mereka seperti sudah kehilangan akal. Tuk Jamang dan istrinya, Mak Inah, tampak semakin lemah menyandar di dinding rumah. Sementara orang-orang kampung yang ramai berkumpul masih tetap diam. Diam.

Tiba-tiba dari arah pagar halaman rumah, tampak Si Goli, anak Wak Entan nelayan tua itu berlari tergesa-gesa menuju ke arah kerumunan orang kampung di rumah itu. Dia seperti dikejar hantu, napasnya tercungap-cungap. Memanggil-manggil nama Tuk Jamang setengah berteriak. Melihat itu, suasana kembali ramai. Orang-orang kampung yang berkumpul itu jadi bertanya-tanya, apa pula gerangannya?

"Hah! Kenapa pulak kau ni Li!" Sergap Ujang yang langsung berdiri dan setengah berlari ke halaman rumah mendekati budak yang tercungap-cungap itu. Sementara Goli sendiri, masih tampak susah hendak bercakap. Mengatur napasnya yang masih tercungap-cungap.

"Bang Udin. Bang Udin, Bang! Saya nampak Bang Udin tergeletak di semak-semak dekat jalan menuju sungai itu!!" Ujar Goli terbata-bata sambil memegang dadanya. Tak pelak, suasana semakin ramai dan heboh. Suara-suara orang-orang kampung semakin terdengar seperti lebah madu.

"Ha! Betul ke ni Li!" Bentak Ujang pada anak itu setengah tak percaya. Sementara dari arah serambi rumah, Tuk Jamang sudah berdiri dan menatap mereka berdua di halaman itu. Ada sesuatu di wajahnya. Cemas dan kerisauan itu serasa lenyap.

"Dah-lah kalau gitu! Yuk, cepat sama-sama kita ke sana!" Ajak Tuk Jamang tiba-tiba dari arah rumah setengah berlari mengajak beberapa pemuda dan tetua kampung yang ada di situ. Mereka pun segera bergerak bersama menuju jalan ke arah sungai seperti yang dikabarkan itu.

Dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Goli. Udin nampak tergeletak lemas di balik semak-semak samping jalan menuju ke arah sungai itu. Dia pingsan. Sekujur tubuhnya terasa dingin sekali. Ujang, Tuk Jamang, dan beberapa orang pemuda kampung kemudian segera mengangkat tubuh yang lemas itu. Mereka mencoba membawanya ke rumah Tuk Jamang. Dan orang-orang kampung masih ramai saat tubuh Udin sampai di rumah orang tuanya itu. "Syukurlah!" Ujar beberapa orang yang ada di sana. Udin selamat dan dapat ditemukan setelah beberapa hari menghilang. Meski dalam hati mereka bertanya-tanya, apa sebenarnya terjadi? Bagaimana Udin bisa hilang kemudian ditemukan dalam keadaan seperti itu?

Pukul 05.00 WIB (Subuh masih gigil)

KABUT dan embun bersetubuh menyelimuti daun dan pelepah kelapa di sekeliling rumah. Ruangan itu tampak hening. Beberapa orang-orang baru saja terjaga dari tidurnya. Mereka saudara-saudara terdekat Tuk Jamang yang sengaja menginap sejak malam, menunggui Udin yang masih tergeletak di lantai beralaskan tikar pandan itu. Udin memang tampak belum sadarkan diri. Tapi, dari tubuh yang tergeletak itu tiba-tiba terdengar suara. Tuk Jamang, yang mendengarnya gegas berlari dari arah serambi rumah. Dia mendekati Udin yang masih tergeletak itu.

"Ekh....akh....ekh...ehmmmm...uhmmm," Udin bersuara dan bergumam panjang seperti mengigau, membuat beberapa saudara Tuk Jamang yang ada di rumah itu bangkit dan melihat apa yang terjadi ke arah Udin. Tuk Jamang yang berada di sampingnya itu tampak memegang kepalanya dan coba memanggilnya untuk segera membuka mata. Suasana masih hening. Tuk Jamang memanggil nama Udin berkali-kali. Sementara Udin sendiri masih saja menggumam. Hingga akhirnya matanya terbuka juga. Tuk Jamang tersenyum. Diusap-usapnya kepala anaknya itu. Dia kemudian menyuruh Mak Inah, istrinya yang tak henti-henti menangis itu mengambil segelas air putih dari dapur. Dan kini gumam Udin benar-benar berhenti. Lalu dia gegas meminum air putih yang disodorkan abahnya itu hingga tak tersisa.

"Apa yang terjadi, Nak?" Ucap Tuk Jamang bertanya pada Udin. Udin sendiri masih terkebel-kebel melirik samping kanan dan kiri ruangan rumah. Matanya masih tampak kosong. Dilihatnya beberapa orang saudaranya masih duduk mengelilinginya. Menatapnya sendu dan seperti sangat berharap menunggu ucapan keluar dari mulutnya.

"Ah, lututku masih lemas," ujarnya perlahan. Bibirnya tampak berat untuk mengucapkan sesuatu dan menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Hingga dengan suaranya yang lirih dan lambat, akhirnya dia bercakap juga.

"Maafkan aku, Bah. Aku masuk ke kampung mereka. Karena perempuan molek itu. Aku bertemu dia waktu aku mancing ikan di sungai itu. Dia sedang mandi di sana. Aku dibawa ke sana, Bah. Kampung yang serba putih itu. Ya, perempuan itu. Perempuan Bunian, Bah. Syukurlah, aku berhasil keluar dari kampung itu setelah dua hari aku berada di sana. Aku hampir diajak kawin dengan perempuan itu..."

Suasana tiba-tiba kembali ramai. Beberapa orang saudara Tuk Jamang yang ada di rumah itu saling memandang satu sama lain. Mereka seperti tak percaya dengan cerita Udin barusan. Perempuan Bunian? Akh!***

Rumahkedua, Awal 2007

Membaca Mata Perempuan Itu

AKU tak pernah bisa membaca mata itu. Padahal di mata itu seperti ada ribuan rangkai cerita yang harus diceritakan. Sejak aku terlahir di kota ini, tinggal dan mengarungi hidup yang tak pernah seperti merasa hidup di dalamnya, tak pernah merasa hidup bersamanya. Di rumah kecil ini, dengan dinding kardus dan atap seng sisa-sisa pembongkaran rumah liar di seberang jalan sana, aku selalu ingin membaca mata itu. Entah, kadang aku merasa tak sepatutnya memiliki keinginan seperti itu. Bagiku, aku masih bisa hidup dan tumbuh menjadi manusia seadanya, aku sudah bersyukur. Tapi karena aku juga terlahir sebagai manusia, yang memiliki rasa ingin tahu, maka mungkin aku juga jadi merasa patut. Patut untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi lewat mata itu. Patut tahu apa yang menyebabkan semua masa lalu yang penuh kebahagiaan itu hilang di mataku. Dan karena aku tak mungkin menanyakan langsung kepadanya tentang apa sebenarnya, maka aku memutuskan untuk mengetahuinya dengan mencoba membaca mata itu. Tapi mengapa aku tak pernah bisa membaca mata perempuan itu?

Mata itu adalah mata ibuku. Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan keadaaan yang serba kesusahan ini. Kesusahan yang datang setelah semua kesenangan itu sempat aku rasakan. Kesenangan itu, mungkin ada karen aku masih memiliki seorang ayah. Seorang lelaki yang di mataku begitu banyak kasih sayang di matanya. Selama aku masih di pangkuannya, semua keinginanku waktu itu pasti dipenuhinya. Saat itu seingatku, aku begitu merasa bahagia. Aku seperti hidup selayaknya manusia kecil lainnya dengan serba keadaan dan kebahagiaan yang diperolehnya. Waktu itu ibu masih begitu muda. Di mata ayahku, seperti tak ada perempuan lain selain ibuku. Ibu adalah satu-satunya seorang bidadari yang bisa selalu memberikan kelembutan dan kehangatan. Selalu memberikan yang terbaik bagi ayah sebagai suaminya dan aku sebagai anaknya.

Dan waktu ternyata berubah. Perubahan itu juga merubah semua keadaan yang pernah aku rasakan. Aku tak tahu pada waktu yang mana, tiba-tiba sosok lelaki yang penuh kasih sayang itu tak lagi ada di hadapanku. Kepergiannya seperti kepergian waktu yang tak pernah permisi dan memberitahuku. Dia menghilang. Meninggalkan ibu dan aku begitu saja. Meninggalkannya dengan keadaan seperti ini. Aku seperti tak percaya kalau ayah tega meninggalkan kami, tapi itulah yang terjadi. Maka saat ini aku pun hanya bisa coba membaca mata perempuan itu. Membacanya karena bagiku di mata itu begitu banyak cerita dan jawaban yang harus diceritakan. Dan aku selalu membacanya hampir setiap hari karena berharap aku menemukan jawaban dari pertanyaan, mengapa ayah yang begitu penuh kasih sayang itu tega meninggalkanku dan ibuku? Mengapa ibu juga jadi selalu saja pergi meninggalkanku?


***

SORE tadi aku kembali menemukan ibu sedang merias wajahnya di sudut kamar kumuh itu. Aku ditinggalkan sendiri di ruang tengah. Sesekali dia coba merayuku untuk jangan rewel dan menangis saat didapati raut wajahku yang seperti ingin menangis. Dia tahu, aku seperti itu karena aku juga tahu, kalau dia sudah berias seperti itu, dia akan pergi meninggalkanku. Aku tak mau ditinggal sendiri di rumah kumuh ini. Aku tak mau malam hanya jadi kecemasan yang tak berkesudahan. Tapi kadang bujukannya lebih dari segala kekuatan dan ketakutan yang ada dalam diriku. Rayuan dan permohonannya sebagai seorang ibu, dengan mengecup keningku, selalu saja bisa meluruhkan hatiku dan sekaligus menguatkan jiwaku sebagai seorang lelaki. Dan kalau sudah begitu, dia pun pergi. Pergi semalaman sampai sinar matahari di ufuk itu menembus lubang-lubang rumah yang terbuat dari kardus itu. Dan aku akan terbangun ketika kudapati kakinya kembali menyentuh ujung pintu. Wajahnya yang kusut dan tubuhnya yang lunglai, kembali menyisakan cerita lain yang selalu membuat aku ingin tahu. Memaksaku untuk selalu lebih membaca mata itu.

“Maafkan ibu, Nak. Kamu tidak menangis kan? Kamu anak yang baik. Sini, ibu susui. Kamu mau menyusu kan?” Suaranya hinggap di telingaku ketika matanya kutatap. Dia kembali membujukku. Puting payudaranya tiba-tiba sudah berada di ujung bibirku. Aku melumatnya dengan segera, karena memang sudah semalaman aku tak mencicipinya.

“Kamu anak yang baik. Maka kamu harus tahu keadaan ibu. Maafkan ibu. Menyusulah, menyusulah sepuas-puasmu. Biar kamu cepat besar. “ Katanya kemudian. Aku tak menjawab, karena aku memang belum bisa berbicara dan menjawab perkataannya. Lalu aku lagi-lagi hanya bisa menatap mata itu, membacanya semampuku hingga pertanyaan-pertanyaan itu tak lagi ada di benakku. Tapi tidak, sekali lagi jujur kukatakan. Pertanyaan itu belum juga terjawab. Belum terjawab. Maka mata itulah yang kutatap. Mata itulah yang kubaca. Berharap jawaban itu keluar dari mata itu.

Dan aku tertidur. Aku tertidur setelah mata itu perlahan membayang lelap bersama mimpiku. Mimpi bertemu lelaki yang selalu kusebut ayah beberapa waktu lalu. Yang selalu memberiku kebahagiaan dan kehidupan sebenarnya sebagai seorang anak. Yang selalu memenuhi semua keinginanku. Dan itu hanya dalam mimpi kini, aku bertemunya kembali. Sementara tangan lembut perempuan itu samar-samar kurasakan membelai lembut ujung rambutku.

***

HARI telah surut. Malam mulai berlabuh. Desiran angin sesekali menyentuh dinding kardus itu dan menggoyangkannya. Semula aku merasa aku tertidur di pangkuan perempuan itu. Tapi setelah kubuka sedikit mataku lalu menatap sekeliling rumah itu, perempuan itu tidak ada. Ah, dia pergi lagi. Ya, dia pergi untuk ke sekian kali seperti sebelumnya. Bahkan dia tak sempat untuk permisi padaku, sekadar membujukku dengan kecupan hangatnya di ujung keningku. Kecemasan kembali tiba-tiba hinggap di hatiku. Aku ingin sekali menangis. Tapi aku juga berpikir untuk tidak menangis. Entah mengapa, tiba-tiba aku jadi ingat perkataannya ketika dia menyusuiku semalam. Aku harus tahu keadaannya. Aku anak yang baik. Ya, aku teringat pesan dan perkataan itu. Maka kuurung niatku untuk menangis. Biarlah. Biarlah hanya malam jadi temanku. Biarlah dia jadi saksi yang tahu tangisanku dan tahu kecemasanku. Meski tangisan dan kecemasan itu hanya bersarang dalam hatiku. Karena percuma, jika tangisan dan kecemasan itu kuluahkan dengan sebenarnya pun, tidak ada makhluk lain yang akan mendengar dan mendekatiku. Sungguh tidak ada.

Sampai tiba-tiba aku terdengar seperti suara ibu dari arah kamar itu. Seperti ada percakapan di sana, tapi tidak. Suara itu lebih halus dan hanya terdengar mendesah. Sesekali kudengar pula selintas suara seperti suara seorang lelaki. Duh, hatiku bergetar, aku kembali teringat ayah. Apakah suara yang dari mulut lelaki itu suara ayah? Pertanyaan demi pertanyaan kini kembali menggelayut di kepalaku. Malam semakin bisu. Aku berusaha sekuat tenaga yang ada, untuk mengetahui apakah benar di dalam kamar itu ibu berada. Kini aku tak hanya setakat ingin membaca dengan mata, tapi aku juga ingin meraba dengan telinga. Tapi dasar memang aku anak kecil mungkin, aku seperti tak kuasa untuk melakukannya. Karena bagaimanapun kekuatan mata dan telinga yang kupunya ada, tapi jika kaki dan tubuhku tak bisa kugerakkan untuk melangkah menuju kamar itu, semuanya lagi-lagi percuma. Percuma. Dan desahan demi desahan halus itu kini semakin jelas kudengar dari arah kamar kumuh itu. Hampir setengah jam aku mendengarnya. Aku semakin penasaran. Siapa yang mendesah begitu lama seperti itu malam-malam begini? Tapi juga siapa yang akan membantuku untuk menjawab pertanyaan yang satu ini?

Akhirnya aku pun merasa putus asa, aku merasa kalah. Suara itu semakin jelas dan semakin keras terdengar. Desahan halus itu semakin jelas dan semakin kerap kudengar. Hingga tiba-tiba dua orang sosok manusia keluar dari kamar kumuh itu. Duh, benar dan memang benar. Dugaanku tak meleset. Aku gembira. Ternyata yang keluar dari kamar itu memang ibu. Ibu keluar mendekatiku dengan BH dan kain sarung seadanya. Hatiku haru. Keputusanku untuk tak menangis ternyata adalah pilihan yang tepat. Ternyata ibu masih di rumah. Tak keluar meninggalkanku seperti malam-malam sebelumnya.

Tapi siapa lelaki yang keluar bersamanya dari kamar itu? Siapa dia, yang tanpa permisi langsung keluar dari rumah ini? Apakah dia ayah? Seingatku, ayah tak pernah keluar dari rumah ini begitu saja. Tak pernah keluar meninggalkanku dan ibu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak, kupikir itu bukan ayah. Bukan ayah yang sempat aku kenal dan aku dambakan sampai sekarang ini. Tapi mengapa lelaki tak kukenal itu malam-malam begini ada di rumah ini?

Ah, sepertinya ada satu lagi jawaban yang harus dikatakan ibu. Ada satu cerita dari sekian cerita yang harus aku tahu. Meski rasanya, semua cerita itu takkan mungkin akan diceritakan ibu padaku. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali bertanya, meminta padanya untuk bercerita dan menjawab semuanya, hingga aku tak lagi harus membaca matanya. Tapi bagaimana caranya? Ah, sudahlah. Aku memang harus selalu membaca mata perempuan itu.***

Pekanbaru, Mei 2005

Garis Tangan


"TAK ada satu pun perempuan di dunia ini yang mau jadi sepertiku, Wen. Percayalah. Tapi kalau sudah garis tangan yang melukiskannya begitu, apa yang bisa dia perbuat?" ujarku pada Weni sahabatku malam itu, perempuan yang selalu mengenakan kerudung di kepalanya. Dia masih tak mengindahkan perkataanku. Sibuk dengan kertas dan diktat yang berserak di lantai. Aku tahu, dia pasti telah muak denganku. Dengan ucapanku, dengan segala apa yang kulakukan selama ini. Weni, sahabatku itu, sebelum ini memang selalu menasihatiku. Hampir setiap aku pulang dan membangunkannya ketika dia sudah terlelap. Mungkin karena aku masih dianggap sebagai sahabatnya dan tinggal satu rumah dengannya, aku masih diterima di matanya. Aku masih dianggap sahabatnya dan dia selalu membukakan pintu jika telah kupanggil namanya. Meskipun sebenarnya di hati kecil perempuan itu, aku tak lebih dari seonggok sampah. Yang setiap saat mengganggu kenyamanan hidupnya dan sewaktu-waktu harus dibuang. Maka aku hanya menunggu saat itu, saat aku dibuang dan tak diterima lagi di rumah ini. Hingga aku tak hanya harus kehilangan rumah yang sudah hampir tiga tahun ini aku tempati, tapi juga kehilangan sahabat yang selalu menasihatiku dan cukup perhatian denganku itu.

"Tapi sekali lagi aku katakan, Ra. Apa sudah tak ada pekerjaan lain selain pekerjaanmu itu? Kau belum terlambat. Masih ada waktu untuk berubah. Tapi kulihat engkau memang tak ada niat untuk berubah, itu yang membuat aku kecewa," ujarnya dengan nada serius dan mata yang berkaca. Ada sedikit rasa keputusasaan di wajahnya. Aku tahu, keputusasaan dan seribu kekecawaan itu.

"Ya, siapa yang tak ingin berubah, Wen. Berubah untuk yang lebih baik. Tapi bukankah engkau tahu aku bukan layaknya seperti kalian? Aku tak bisa melanjutkan kuliahku kalau tak melakukan perkerjaan itu. Sementara kalian, hanya tinggal menelpon atau mengirim surat, semua kebutuhan kalian dapat."

"Ah, alasan yang membuat aku semakin tak mengerti. Klise," timpal perempuan berkerudung itu tiba-tiba dan kemudian meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Ia langsung menuju kamar dan menutup rapat pintunya. Aku tak sempat menjawab. Obrolan kami terhenti. Dan aku tinggal sendiri. Lalu untuk ke sekian kalinya aku pun merasa bersalah. Bukan hanya bersalah pada diriku sendiri, tapi juga pada semuanya. Hanya mungkin Weni, sahabatku itu, tak tahu sepeti apa remuknya hati dan perasaanku ini dibanding hati dan perasaannya sendiri. Selalu membenarkan ucapannya tanpa bisa sedikit memahami perasaaan sahabatnya, sehingga dia seenaknya bicara. Tapi aku juga harus mafhum, mungkin karena dia masih cukup perhatian dan ambil berat dengan keadaanku, maka dia begitu. Walaupun dengan caranya seperti itu, justru dia sebenarnya telah membuat kepalaku bertambah berat. Tak dapat memberikan solusi yang lebih tepat.

***

AKU masih sendiri di ruang tamu. Malam begitu bisu. Tak bisa menggantikan Weni sahabatku yang telah kembali merajuk dan memilih masuk ke kamarnya itu. Tiba-tiba, selintas bayangan abah dan emak tanpa kuduga terasa hinggap di mataku. Ah, sungguh aku tak ingin mengingatnya. Bukan berarti aku anak durhaka yang coba melupakan orangtuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya, tapi tak lebih hanya karena aku merasa bersalah. Di setiap aku membayangkan mereka lalu bayangan itu hinggap di mataku, seribu kegalauan dan haru biru serasa menyerangku. Pikiran dan perasaan tak menentu. Aku memang tak seharusnya jadi begini. Latar belakang keluarga dan didikan agama yang diberikan oleh mereka memang cukup sudah menjadi alasan untuk tak pernah membenarkan pekerjaanku ini. Tak selayaknya gadis kampung sepertiku berbuat seperti itu. Belum lagi malu tak terperi yang harus diterima abah dan emak di mata orang-orang kampung, segunung harapan yang pernah diletakkan di pundakku juga serasa punah dan tak bisa aku penuhi. Aku tak bisa jadi selayaknya perempuan-perempuan lain yang diharapkan abah dan emak. Seperti Weni, Eka, dan Marya teman-temanku itu. Perempuan-perempuan yang tak sekadar telah melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tapi juga selalu menorehkan prestasi hingga orang tua mereka berbangga hati. Selalu menjadi yang terbaik dan bisa sepenuhnya memenuhi syariat agama dan adat istiadat kampung kelahirannya.

Ya, tapi bukankah apa yang kulakukan ini juga telah membantu meringankan beban mereka? Karena memang aku pun terlahir dalam keluarga yang lumayan besar, sebagai anak tertua, aku berpikir telah melakukan sesuatu yang sepatutnya aku lakukan. Tak ingin kubiarkan Andi, Siti, dan Feri adik-adikku itu gagal mencicipi pendidikan sepertiku. Meski keluargaku adalah keluarga yang susah, tapi aku mau mereka tetap sekolah. Aku tak mau mereka jadi orang-orang yang menyesal kemudian hari, hanya karena tak punya pendidikan memadai untuk mengarungi hidup yang semakin konyol ini. Dan sebab itulah aku berbangga hati karena telah bisa meringankan beban abah dan emak dengan membantu membiayai Andi, Siti dan Feri untuk melanjutkan pendidikannya saat ini. Bahkan Andi, adik lelakiku yang gagah itu juga bisa kuliah sepertiku. Dan itu tak terttutup kemungkinan juga bagi Siti dan Feri untuk bisa sepertinya. Karena sekali lagi ku tahu, mereka juga sama sepertiku, berkeinginan untuk bisa melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi. Akankah mereka akan berpikir dan membenarkan anggapanku yang selama ini menjadi penguat hati untuk mejalani garis tangan itu?

***

DUA hari sudah aku tak pulang ke kostku sejak kejadian itu. Sejak Weni, Marya dan Eka tak mau lagi mau berbicara denganku atau setakat menyapaku seperti setiap kali aku pulang lewat tangah malam dan salah satu dari mereka membukakan pintu. Bagiku, tak menginjakkan kaki di rumah itu saat-saat seperti ini tak begitu jadi masalah, selama dua hari ini aku diboking oleh salah satu pelanggan tetapku. Di samping tarifnya juga mahal, berkencan dengan lelaki hidung belang yang satu ini membuatku lebih dari seorang puteri. Semua keperluanku selama masa bokingan itu dipenuhi. Dari biaya luluran sampai biaya itu-ini. Hanya kadang justru aku yang kelabakan jika dia sudah meminta untuk dilayani sehari 24 jam. Tidur di ketiaknya tanpa aku harus bisa berbuat apa-apa. Selalu diawasi meski hanya untuk permisi ke kamar mandi. Ah, memang seperti dipenjara. Tapi bukankah isi kantong lelaki itu lebih dari segalanya? Biarlah aku lembur dan seperti bau lumpur, tapi aku tetap bisa hidup dan lega menjalaninya dengan segala tetek bengeknya. Dan dengan begitu, sejenak segala persoalaanku, baik dengan teman-teman maupun dengan keluargaku, dapat sedikit kulupakan.

Sampai tiba-tiba ponselku berdering. Berdering dengan nomor yang tak asing lagi di mataku. Weni? Ya, nomor Weni. Muncul di monitor ponselku. Aku sedikit terkejut. Sungguh, selama hampir tiga tahun aku mengenalnya dan memberikan nomor ponselku kepadanya dia tak pernah menghubungiku. Kalau pun dia menghubungiku, paling lewat SMS. Itu pun karena dia ingin menyampaikan kalau dia dan teman-teman yang lain tak ada di rumah, kunci dititipkan tetangga sebelah. Dan aku masih bisa pulang tanpa perlu membangunkan mereka seperti biasa. Tapi kini sepertinya dia memang ingin berbicara denganku. Karena setelah lama aku tunggu beberapa saat, ponsel itu tetap berdering. Dan ponsel pun segera aku angkat. Tak ada suara di seberang sana hingga suara terisak-isak menangis itu terdengar.

"Ra, bisakah engkau pulang? Ada kabar buruk yang harus kuceritakan padamu Ra. Tolong Ra, engkau harus pulang....." Suara perempuan itu terasa hanyut di telingaku. Belum sempat aku bicara dan bertanya kabar tentang apa yang dikatakannya itu, telepon terputus. Aku hanya bisa termangu sendiri. Seribu pertanyaanku tentang perempuan itu kembali menyerangku. Ada apa?

Aku bergegas pulang ke rumah itu. Meski sejak beberapa hari ini aku memutuskan untuk tidak kembali ke sana sampai beberapa minggu. Tapi sekarang, rasanya jadi tak mungkin. Weni, sahabatku yang selalu ambil tahu tentangku itu kini sepertinya mengalami masalah berat. Hingga dia melakukan apa yang dia tak pernah lakukan padaku: menelponku.

Aku telah sampai di depan pintu rumah. Tak terkunci. Kuucapkan salam tapi tak ada satu suara dari dalam yang menjawabnya. Sebelum sampai ke ruang belakang tempat kamar Eka dan Marya, aku menuju kamarku dan Weni. Pun tak ada perempuan itu di sana. Hatiku semakin tak karuan. Ke mana mereka? Kuputuskan untuk langsung menuju kamar Eka dan Marya di belakang. Pintu tampak terbuka. Aku mendapati mereka sedang duduk dengan kepala tertunduk.

"Mar, Ka. Ada apa. Ke mana Weni?" kucoba langsung bertanya setelah mendapati mereka menatapku dengan mata kosong setelah aku berada di tengah pintu kamar itu. Tak ada jawaban dari mererka. Mata mereka semakin kosong. Menatapku seperti orang hilang ingatan.

"Mar, ada apa sebenarnya?" Perempuan itu tak menjawab. Aku beralih ke arah Eka dengan perasaan semakin tak menentu dan menyentuh pundaknya perlahan. "Ka, ada apa, Ka. Ada apa?" Perempuan itu pun tiba-tiba terisak, setelah matanya sejak tadi kulihat kosong dan berkaca. Lalu dengan isak tangis itu ia akhirnya bicara.

"Weni, Ra. Keluarganya ditimpa musibah. Banjir telah menenggelamkan seluruh kampungnya. Dia tak punya siapa-siapa lagi Ra." Tangis di matanya berderai. Aku terkejut. Bahkan untuk ke sekian kalinya terkejut. Dan aku berusaha untuk kuat mendengar apa yang diucapkan sahabatku itu. Meski sebenarnya aku masih penasaran. Banjir? Banjir seperti apa sampai bisa menenggelamkan seluruh kampung itu? Dan ke mana perempuan berkerudung itu sekarang?

"Jadi, di mana Weni sekarang. Banjir seperti apa, Ka?" aku jadi bertanya lagi. Singkat. Dan pundaknya berusaha kuraih. Kudekatkan dengan pundakku. Aku mau dia tetap bisa menceritakan berita itu kepadaku.

"Banjir yang tak seperti biasanya. Luar biasa. Seperti gelombang pasang tsunami di Aceh itu. Menenggelamkan rumah, kebun-kebun sawit, bahkan telah menenggelamkan semua penduduk. Ayah dan ibunya meninggal, Ra. Mereka tak bisa menyelamatkan diri karena terkurung di dalam rumah. Semua famili dan sanak saudaranya juga tak ada yang selamat. Weni sekarang ke sana. Dia langsung pergi tak lama setelah meneleponmu. Dan barusan dia meneleponku, katanya, dia sendiri pun tak bisa menempuh kampung itu lagi, karena semua jalan terputus."

Air mata itu semakin deras turun. Aku terdiam. Tak terasa, seperti mereka, sesuatu pun turun dari mataku. Langit-langit kamar itu kini yang aku pandang. Setumpuk bayangan lalu berkelindan di mataku, mungkin juga di mata Eka dan Marya di sebelahku. Dan sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, seperti apa hati dan perasaan Weni?

Kami bertiga sepertinya memang tiak bisa berbuat banyak pada Weni atas kejadian itu. Bahkan tak terasa telah seminggu kejadian itu berlalu. Weni belum juga kembali sejak kepulangannya ke kampung,. Hampir setiap hari kami coba menghubunginya lewat ponsel tapi tak pernah berhasil. Pun ketika kami coba bertanya dengan Trio, teman sekampungnya, dia malah mengatakan tak pernah ketemu Weni di sana. Ah, hatiku semakin tak menentu. Eka dan Marya juga begitu. Sejuta kecemasan menyerbu. Kini kami tak hanya memikirkan hati dan perasaan perempuan itu, namun lebih dari segalanya, nyawa dan keberadaannya. Apa kami perlu ke sana mencarinya? Rasanya seperti tak mungkin. Satu pun dari kami belum ada yang pernah ke sana. Kalaupun kami ingin memutuskan untuk mengajak Trio atau teman lain yang pernah ke sana, namun tempat yang akan kami tuju di sana pun tidak ada, rasanya percuma. Seperti yang kami baca di koran, kampung itu telah jadi seperti danau. Air tetap menggenang dan tak pernah surut. Tanah di kampung itu seperti tak lagi bisa menyerap banjir. Hanya sekian persen penduduk kampung itu yang selamat. Selamat karena berhasil menjadikan apa saja yang terapung waktu itu untuk dijadikan pegangan hingga masih tetap bisa bernapas. Sampai bantuan dari sukarelawan datang dengan berbagai macam perahu dan mengevakuasi meraka dari sana. Lalu, di mana Weni sekarang?

***

MALAM semakin bisu. Wajah bulan yang setengah itu seolah ingin menambah suasana pilu di kamar itu. Kami masih duduk di sana. Seperti tak ada yang bisa dilakukan, kami memilih diam. Hampir seminggu sudah suasana itu menyelimuti kami. Duduk termenung sembari menunggu kabar dari Weni. Hampir tak ada jeda kami menghubunginya lewat ponsel, tapi tak pernah bisa. Dan ketika aku sekian kali menekan keypad untuk menghubungi nomor Weni, ada seseorang menghubungiku. Ah, aku sempat lega. Tapi kelegaan itu tiba-tiba hilang. Busyet! Nomor ini ternyata tak ada kena mengenanya dengan kejadian ini, tante Gita. Dasar jalanan. Tak tahu orang sedang seperti apa. Tanpa basa-basi dia malah menyuruhku segera ke hotel. Menyuruhku ceck-in karena ada pelanggan yan ingin membokingku. "Lyra! Temui aku. Kamu harus check-in sekarang. Ada tamu!" Suara perempuan itu menyambar. Telepon terputus. Sepatah pun kata-kata belum sempat kuucapkan pada perempuan itu. Aku bingung. Sekali lagi hatiku tak tentu. Apa aku harus meninggalkan dua sahabatku ini di kamar ini dengan kondisi seperti ini?

Tampaknya aku memang tak punya pilihan lain. Beberapa hari lalu perempuan jalang itu mengungkit-ungkit lagi hutangku. Dia tahu, aku ingin meninggalkannya dan pindah ke germo lain. Dan aku sempat bilang padanya tentang hal itu beberapa minggu lalu. Perempuan itu marah sekali. Aku diancam tak bisa diterima lagi oleh germo di manapun. Aku takut sekali hal itu, karena kutahu dia memang punya cukup relasi untuk melakukan upaya pem-blacklis-an. Karena germo-germo lain di kota ini juga sudah sangat mengenalnya. Dan sekali lagi aku tahu, itu salahku. Aku tak mungkin lari darinya hanya gara-gara hutang itu, sementara hutang itu sudah bisa dilunasi dengan sekali ceck-in dengan satu pelanggan saja. Setelah itu selesai. Lalu mengapa aku harus menolaknya?

Aku segera bergegas. Meskipun kulihat Eka dan Marya sedari tadi kian memandangiku dengan wajah sendu. Aku tahu, mereka berdua pasti tak rela. Tak rela dengan kepergianku karena situasi lagi tak menentu. Tak mau kehilangan seorang teman yang ada sementara teman yang ditunggu tak kunjung tahu keberadaaannya. Tapi, bagaimana lagi. Aku terpaksa. Karena berbagai persoalan dan tuntutan itu, karena sudah garis tanganku.

"Ka, maaf. Bukan berarti aku tega meninggalkan kalian. Tapi karena ini juga sebuah persoalan. Aku segera ke sana, ya..." ujarku setengah membujuk pada Eka yang duduk di samping ranjang itu. Dia tak menjawab. Tapi sepertinya dia paham. Dan sejurus kemudian dia mengangguk sembari menyunggingkan segaris senyum khasnya itu. Syukur, aku lega. Dengan senyum lembut itu, aku tahu, berarti dia senang dan tak keberatan dengan kepergianku. Sementara di sudut yang lain, kulihat Marya juga mengangguk sambil terus menyeka matanya. "Hati-hati Ra," ujarnya kemudian.

***

PUKUL 21.00 WIB. Aku telah sampai di halaman hotel. Kulangkahkan kaki untuk langsung menuju bar dan karaoke yang ada di bagian belakang. Tante Gita, perempuan jalang itu harus terlebih dulu kutemui. Dan di sana, dia memang telah duduk bersama seorang lelaki. Lelaki itu, pasti lelaki yang ingin membokingku. Aku berkenalan dengannya. Seperti biasa, kami pun melakukan negosiasi tarif yang diinginkan. Tampaknya lelaki itu memang begitu tertarik padaku. Dan dia tahu, aku bukan seperti yang lain. Bukan freelance atau cube girls yang biasa dia temui di hotel-hotel murahan itu. Tante Gita pasti yang memberitahunya. Selama ini, memang bukan sembarangan lelaki bisa kencan bersamaku. Hanya orang-orang tertentu. Tertentu karena tarif dan tahu level statusku.

Negosiasi clear. Ternyata lelaki itu memutuskan untuk memilih longtime bersamaku. Ah, ini pasti melelahkan, pikirku. Tapi tak apalah. Sekali lagi, bukankah isi kantong lelaki itu lebih dari segalanya? Dengan longtime, kuyakin, kantongnya bisa kuperas hingga kandas tak berbekas. Dan hutangku pada perempuan jalang itu lunas.

Segera aku membuntuti lelaki itu. Kamar inapnya di lantai atas. Dia memilih tangga untuk menuju ke sana. Sampai di tangga kedua, tiba-tiba aku seperti melihat seseorang perempuan dengan lelaki menuju tempat yang sama. Mereka berjalan tak jauh di depan kami. Aku seperti mengenal perempuan itu. Rias wajahnya seperti tak asing di mataku. Hanya lampu di tangga itu yang tak mengizinkan untuk aku melihat lebih jelas raut wajahnya. Ah, aku penasaran. Entah mengapa tiba-tiba seperti ada gemuruh di dadaku. Dan gemuruh itu mengajakku untuk lebih mendekati perempuan dan lelaki itu. Aku mengajak lelaki bersamaku untuk sedikit mempercepat langkah kaki. Semula dia bertanya kenapa, aku katakan padanya perempuan di depan itu seperti aku kenal. Aku ingin memastikannya. Dia kemudian mengerti dan ikut mempercepat langkahnya.

Sampai di tikungan yang memisahkan antar billiardroom dengan ruang inap, aku berhasil memergokinya. Wajah perempuan itu kini jelas terlihat. Dan dia secara tak sengaja juga melihat ke arahku. Subhanallah....., aku spontan mengucap. Lelaki di sebelahku memandangiku lekat. Mungkin di hatinya berkata, ini bukan callgirl biasa. Darah di sekujur tubuhku terasa berdesir berkumpul di ujung kepala. Kedua kakiku tiba-tiba terasa seperti lumpuh. Tak mampu menopang tubuh yang telah lama terjual ini. Weni? Apakah benar dia? Di mana kerudung yang kerap melekat di kepalanya? Subhanallah....., sekali lagi lafal itu terucap. Bahkan berkali-berkali di hati. Rasanya mataku belum rusak dan sepertinya aku bukan sedang bermimpi. Perempuan itu, Weni? Ya, perempuan itu Weni.

Kami masih saling berdiri kaku di lorong itu. Meski aku tahu bukan bermimpi dan di hadapanku itu Weni, tapi aku benar-benar jadi bengong. Hingga belum sempat aku mengucapkan apa-apa padanya, dia tiba-tiba hilang di depanku. Dia beranjak pergi bersama lelaki itu menuju salah satu ruang inap. Sepontan aku coba mengejar dan memanggil namanya, tapi dia seperti tak mendengar. Dia seperti tak mengenalku dan segera mengajak lelaki di sampingnya itu untuk masuk ke ruang inap itu. Pintu langsung ditutup sebelum sempat aku menahannya. Kugedor pintu itu dan dengan sekuat suara aku memanggil namanya. Tapi tak juga kunjung dia jawab. Malah pintu itu terdengar seperti dikunci dari dalam. Sekilas terdengar di telingaku pembicaraan mereka. Lelaki yang bersamanya itu bertanya sama seperti pertanyaan yang dilontarkan lelaki di sebelahku kepadaku, "Apa sebenarnya yang terjadi?" Aku tak menjawab. Sesaat aku tertegun. Perasaan tak menentu dan kegalauan itu pun kembali menyergapku. Aku berusaha kuat. Berusaha bersikap wajar. Paling tidak di depan lelaki yang kini berdiri keheranan itu.

***

HAMPIR lebih dari lima kali pesan itu aku terima. Setelah aku kini berada dengan lelaki itu di kamar ini. Dan tugasku usai kujalani. Aku hanya bisa menyeka butiran air mata, ketika pesan bersambung sepertti sebuah surat di ponselku itu aku baca. Weni kini sebenarnya berada tak jauh dariku. Ruang inapnya hanya berjarak beberapa ruang saja dari ruang inapku. Tapi aku tahu, dia tak akan mungkin mampu menemuiku dengan keadaan yang sungguh sebelumnya tak pernah aku duga. Dia hanya bisa mengirim pesan itu sampai beberapa kali kepadaku, untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi sejak dia meninggalkan kami beberapa waktu lalu.

Maaf, Ra. Aku tahu engkau pasti bertanya-tanya. Maka itu aku kirim pesan ini. Aku malu Ra, sungguh. Maafin aku. Aku malu kepadamu, pada Eka, Marya, bahkan pada diriku sendiri. Tapi ini garis tangan, Ra, seperti yang pernah kau katakan padaku beberapa waktu lalu dan kau meyakini itu. Maafkan aku jika sejak kejadian itu aku tak ada mengirim kabar kepadamu, pada Eka dan Marya. Aku tahu, kalian pasti mengkhawatirkanku. Dan engkau pasti bertanya: mengapa? Inilah jawabnya, Ra. Sejak kejadian itu, aku sempat depresi. Aku tak tahu harus bagaimana lagi meneruskan hidup ini. Engkau tahu kan? Tak ada satu pun lagi orang-orang yang menyayangi dan membiayaiku selama ini. Bagaimana aku harus melanjutkan pendidikanku yang selama ini aku cita-citakan itu? Ayah dan ibukku telah pergi. Pergi selamanya, Ra. Bahkan aku pun tak sempat menemui dan melihatnya untuk terakhir kali. Maka, mungkin inilah jalan terburuk namun terbaik di mataku untuk itu semua, Ra. Meski aku tahu, bukan Tuhan saja yang murka kepadaku setelah kujalani semua ini, tapi juga kamu, Eka, Marya dan semua yang tahu dan yang mengenaliku. Namun sekali lagi, sepertimu, seperti apa saja yang pernah kau ucapkan padaku, sehingga kau terjerumus untuk melakukan hal ini, itulah juga yang ada di hatiku, garis tangan.

Nada pengingat pesan itu tak berbunyi lagi. Malam semakin bisu. Tak puas hati, aku masih juga menunggu nada pengingat itu kembali, tapi memang tak ada lagi. Ah, Wen, garis tangan?***


Pekanbaru, Februari 2005

(seperti yang diceritakan seorang sahabat kepadaku beberapa waktu lalu)